Selagi dia disana bisa tersenyum dan tertawa, tak peduli dengan siapapun dia, siapapun yang dipilihnya saat ini, aku tetap sama. Selalu meluangkan satu tempat dihatiku untuknya. Jikalau suatu hari nanti dia benar-benar sadar siapa yang selalu menunggunya disini. Terlalu naif untuk berkata "aku telah berhenti berharap, aku ikhlas kau pergi bahkan lari bersamanya", karena harapan itu akan terus ada mengiringi setiap hembusan rasa. Yang benar adalah berusaha untuk tidak memaksakan apa yang kita inginkan. Berusaha memahami situasi meskipun itu sulit. Namun bukankah sebuah ketulusan dan penantian tidak akan pernah berakhir sia-sia? akan ada cerita baru, atau malah waktu yang baru untuk cerita lama... Aku masih dengan rasa yang sama hingga saat ini, namun entah sampai kapan... Bukankah kau mengerti bahwa perasaan itu dapat berubah oleh waktu...
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Jumat, 25 Januari 2013
Coretan Tentang Rasa
Sabtu, 31 Desember 2011
Samar
Saat ini jika ingin lepas juga tak bisa
Ingin kembali tetapi jalan kembali telah tertutup rapat
Ingin tenang tapi gelisah selalu menusuk
Ingin maju pun rasa-rasanya bukan jalan yang seharusnya
Apa yang bisa dijalani saat ini, Tuhan?
Mengapa sulit menemukan secuil keyakinan disini?
Jangan samar,
Aku tidak suka samar, lebih baik gelap sekalian.
Yang seperti ini jelas menindih sebuah ketegaran
Aku kah sendiri yang menanggungnya?
Aku tidak pernah meyangsikan keadilanmu, Tuhan.
Aku hanya ingin sebuah keyakinan atas semua ini, semua kesamaran ini.
Disaat aku ingin menjerit aku tau itu mengganggu
Ingin diam tapi itu merapuhkan
Ingin memuncakkan amarah, namun kepada siapa?
Ingin mengeluh namun hidup terlalu panjang
Tersenyum. Tertawa. Menikmati senja. Sebuah pilihan mudah atas segalanya...
Minggu, 15 Mei 2011
Ku Ukir Namamu
Ku ukir namamu di pasir yang kasar,
Namun terhapus oleh ombak yang berderai
Ku ukir namamu di air yang tenang,
Namun bias di lebur air yang mengalir
Ku ukir namamu di langit yang gemuruh,
Namun jatuh diterpa awan yang beruntun
Ku ukir namamu di hatiku yang tulus,
Dan disanalah tempat pelabuhan terakhirnya...
Namun terhapus oleh ombak yang berderai
Ku ukir namamu di air yang tenang,
Namun bias di lebur air yang mengalir
Ku ukir namamu di langit yang gemuruh,
Namun jatuh diterpa awan yang beruntun
Ku ukir namamu di hatiku yang tulus,
Dan disanalah tempat pelabuhan terakhirnya...
Cahayaku (Ayah)
Air membinar di pelupuk mata
Butiran air itu telah lama singgah disana
Saat keheningan, kesakitan, kepedihan mulai menerka
Tlah lama kunanti pekat cahayamu
Tlah lama kurindu untaian jemarimu
Kuasamu memang indah Tuhan, untuk aku sang pemimpi
Hingga dapat kau putar sang fana
Melalui riak disana
Membawa dia, Cahayaku...
Cerita Masa Itu
Jika teringat masa itu
Hatiku gemuruh dan ricuh
Rindu akan hangatnya dekapan kebersamaan
Inginkan terjadi perputaran waktu kembali
Jika aku boleh bersua
Maka aku akan menghapus jejak semu
Yang kupakai dengan menuntun nama waktu
Sekarang, cerita indah bersamamu
Hanya segores tinta hitam
Diatas lembar putih, sebuah kehidupan abadi
Tapi aku takan menyesali
Takkan menjerit agar masa itu kembali
Karna saat itu pernah terjadi
Yang membuat hidup lebih berarti
Walau semua telah lama tersudut sepi
Jauh di relung hati...
Peri Kecil
Sepasang mata berbinar
Mengamati seorang peri kecil
Yang terlihat kelam dalam kesepian
Dalam fikirnya mengungkapkan tanda tanya
Mengapa titik air kelabu menghujani pipinya
Seperti tergores luka di hatinya
Seiring ketakutan yang mendalam
Apa yang terjadi di masa silam ??
Sampai peri kecil ini tampak kehilangan sayap...
Baka dunia di hatinya
Penat dan sesak mengiringi langkahnya
Kini, semua pengharapan hanya ada pada doa
Agar kelak sang peri kecil
Akan dimanjakan Tuhan
Pada karunia yang disebut... Surga
Sepi...
Hatiku ini memang sekecil kerikil
Namun harapanku akan hidup Setinggi gelombang
Sang tirta semaunya saja pasang dan surut
Dan awan-awan tetap saja beruntun
Apakah dunia memang berputar ??
Bila iya, mengapa aku selalu ada di tempat yang sama
Di tempat aku terhimpit sendirian dan kesepian
Tersudut di gelapnya malam
Tertepi di ujung pantai kasar
Sangat sulit menerawang pola dunia
Apalagi dunia yang hambar tanpa rasa
Dalam keramaian saja aku tak dapat mendengar suara
Apalagi dalam sepi ini
Aku merasa jiwaku mati...
Langganan:
Postingan (Atom)
